Busur Telik Sandi

lisensi

Busur Telik Sandi
Minggu, 16 Agustus 2026, Agustus 16, 2026 WIB
Last Updated 2026-08-16T09:08:47Z
Pringsewu

RT 08 Tegalsari dan Pelajaran dari Sebuah Karnaval: Ketika Kebersamaan Menjadi Wajah Kemerdekaan

Advertisement


Busurteliksandi.com — Lapangan SDN 1 Tegalsari, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Minggu (16/8/2026), menjadi saksi bagaimana perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dapat tumbuh dari ruang paling sederhana: lingkungan warga.

RT 08/RW 02 Desa Tegalsari hadir dalam karnaval antar-RT dengan mengusung tema Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, nilai utama yang tampak bukan semata kostum, drama, yel-yel, atau properti. Yang lebih menarik justru proses sosial di balik penampilan tersebut: warga bergotong royong, berbagi peran, dan menyatukan kreativitas.


Ibu-ibu menyiapkan kostum dan berbagai properti. Anak-anak berlatih drama serta yel-yel. Bapak-bapak turut membuat kendaraan hias bertema “Mobil MBG”. Semua dikerjakan secara swadaya, dengan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki warga.

Di situlah makna karnaval menjadi lebih luas. Ia tidak lagi sekadar perlombaan, melainkan ruang perjumpaan sosial.
Dari Isu Nasional Menjadi Kritik Sosial
Pilihan tema MBG juga menarik dicermati. Program yang menjadi bagian dari kebijakan nasional tersebut dibawa ke tingkat RT melalui drama dan humor.
Salah satu adegan menggambarkan peserta seolah-olah mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan yang dalam cerita digambarkan kurang layak. Adegan tersebut merupakan drama fiktif dan satire, bukan penggambaran peristiwa keracunan nyata.

Meski dikemas dengan humor, pesan yang ingin disampaikan cukup relevan: program pangan untuk masyarakat harus memperhatikan kualitas, keamanan, kebersihan, kecukupan gizi, serta ketepatan sasaran.

Kritik sosial semacam itu merupakan bagian dari dinamika masyarakat. Namun, penting pula menjaga batas antara satire dan fakta. Karena itu, adegan dalam pertunjukan tersebut tidak semestinya dipahami sebagai tuduhan terhadap penyelenggara atau pihak tertentu.

Justru di sinilah kedewasaan publik diperlukan: kritik boleh tajam, tetapi fakta tetap harus dibedakan dari pertunjukan.
Yang Lebih Penting dari Sebuah Piala
Karnaval biasanya diukur dari siapa yang menjadi juara. Tetapi bagi RT 08, ada ukuran lain yang tak kalah penting: seberapa banyak warga yang terlibat.

Latihan yang berulang, pembuatan kostum, penyusunan properti, pembuatan mobil MBG, hingga persiapan yel-yel memperlihatkan adanya kerja kolektif yang tidak muncul dalam hitungan menit ketika rombongan tampil.

Bagi penonton, pertunjukan mungkin hanya berlangsung singkat. Bagi warga, prosesnya jauh lebih panjang.
Ada waktu yang diberikan, tenaga yang dikeluarkan, biaya yang disisihkan, dan tentu saja tawa serta perbedaan kecil yang harus diselesaikan bersama.

Seorang koordinator kegiatan RT 08 menyebut seluruh penampilan tersebut merupakan hasil kerja bersama warga.

“Kami mempersiapkannya bersama-sama. Ibu-ibu dan anak-anak berlatih drama dan yel-yel, ibu-ibu juga banyak membantu membuat kostum serta berbagai properti. Bapak-bapak ikut bekerja membuat mobil MBG,” ujarnya.

Menurutnya, tema MBG sengaja dikemas sebagai hiburan sekaligus pesan sosial.

“Program untuk rakyat tentu harus memberikan manfaat untuk rakyat. Makanan harus bergizi, aman, layak, dan tepat sasaran. Kami sampaikan lewat drama supaya tidak kaku,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa substansi kegiatan bukan hanya soal tampil meriah, tetapi juga keinginan warga untuk menyampaikan pandangan melalui medium yang dekat dengan kehidupan mereka.

Di tengah perayaan kemerdekaan yang kerap dipenuhi seremoni besar, kisah RT 08 memberikan perspektif sederhana: semangat kebangsaan tidak selalu harus hadir melalui panggung besar.
Ia dapat muncul dari ibu-ibu yang menjahit kostum, bapak-bapak yang merakit kendaraan hias, anak-anak yang berlatih dialog, atau tetangga yang datang membantu meski tidak ikut tampil.

Karena pada akhirnya, kemerdekaan tidak hanya berbicara tentang sejarah masa lalu. Ia juga menyangkut kemampuan masyarakat untuk hidup bersama, bergotong royong, menyampaikan pendapat, dan membangun ruang sosial yang sehat.
RT 08/RW 02 Tegalsari mungkin hanya satu dari sekian banyak lingkungan yang merayakan HUT ke-81 RI. Namun, dari sebuah karnaval sederhana itu tersimpan pesan yang cukup kuat:

Kebersamaan tidak membutuhkan kemewahan. Ia hanya membutuhkan kemauan untuk saling terlibat.
Dan jika sebuah perlombaan antar-RT mampu membuat ibu-ibu, bapak-bapak, dan anak-anak duduk bersama, bekerja bersama, tertawa bersama, lalu berdiri dalam satu barisan, maka kemenangan sesungguhnya tidak selalu berbentuk piala.
Kadang, kemenangan itu bernama kerukunan.

RT 08/RW 02 Tegalsari — satu warga, satu semangat, satu kebersamaan.
Merdeka!


(Tim)